Thursday, August 31, 2006

usai

Havel,

Blog ini tenyata rentan tergerus rasa tak puas diri dan kejenuhan. Sebagai pengganti, aku kini punya http://blogyusariyanto.wordpress.com/. Silakan dikunjungi jika berkenan.

Wednesday, August 23, 2006

shai agassi

Havel,

Deadline tiba lagi. Beban kerja kembali menekan. Di sela-sela itu semua, tertumbuklah mata pada kutipan inspiratif ini:

This is the beauty of being human. You can have two conflicting thoughts at the same time and not go crazy.

O, iya, bukan seorang filsuf yang mengucapkannya, melainkan eksekutif di sebuah perusahaan peranti lunak ternama, SAP. Nama dia Shai Aggasi.

Tuesday, August 15, 2006

di lido

Saturday, August 05, 2006

sebelas pekan

Havel,

Ini petikan kabar tentang adikmu. Kita memperolehnya dari pengelola situs www.bayi.us yang mengirimkan email ke ibumu.

Struktur tubuh dan organ dari bayi Anda sudah mulai berfungsi. Jari jemari tangan dan kaki bayi Anda mulai terpisah dan sudah menjadi bentuk sempurna tangan dan kaki yang juga sudah lengkap dengan kuku yang juga mulai tumbuh. Selain itu, rambutnya pun telah mulai tumbuh. Pada minggu ke 11 ini jenis kelamin bayi Anda mulai terbentuk sebagai laki-laki atau perempuan. Seiring bekerjanya organ bayi Anda, bekerja pula ginjal...dengan menghasilkan cairan amniotic yang terdiri dari air dan juga mulai menghasilkan urine. Berat bayi Anda 7-8 gram dengan tinggi 4,1-4,2 cm.

PS: Aku sedikiiiit menyuntingnya, demi kemudahan mencerna belaka.

Friday, July 28, 2006

nostalgia

Havel,

Lama bermukim di Amerika, seorang teman mudik sejenak ke Indonesia. Kami--belasan orang-- lalu berhimpun, ditingkahi dentam musik dan seafood yang menggugah selera. Suasana hangat dengan gurau canda.

Bernostalgia, kami mengungkit lagi kisah-kisah semasa sekolah. Melulu nostalgia. Tapi, apa yang salah? Hari ini dan esok mustahil eksis tanpa hari kemarin. Persoalannya cuma dosis. Apa saja yang terlampau banyak tentu dekat dengan mudarat.

Dan, seorang Amir pun mesti menapaktilasi sejarah pribadinya. Di Afghanistan, negeri yang letih oleh konflik berkepanjangan itu, ia harus menghadapkan wajah ke belakang. Padahal, hanya perih dan sedih di sana. Simaklah kisahnya di The Kite Runner (Aku baru tuntas membacanya pekan lalu. O, iya, terima kasih buat Khaled Hosseini yang telah menghadirkan cerita amat menyentuh ini).

Tuesday, July 18, 2006

anyer, bukan pangandaran


Havel,

Kamu berguling-guling di pasir. Sementara, kami mesti menghadapi nenek penjual emping, anak muda penjaja otak-otak. Anyer, siang itu, sunyi. Barangkali kita tiba terlampau dini. Laut terhampar. Ombak menampar-nampar. Cahaya matahari membasuh. Keelokan yang utuh.

Waktu berlari, rindu pantai lagi. Sedihnya, kemarin, di pesisir Selatan, dari laut, maut datang menjemput....

Wednesday, July 12, 2006

menyala

Havel,

Kegembiraan bisa menyala kapan saja. Pekan ini, titik apinya adalah kedatangan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit karya Bondan Winarno. Ini buku yang lama kuinginkan. Ini buku yang membuatku malu hati karena belum menyimaknya meski banyak orang menyeru: Bre-X adalah salah satu sampel terbaik praktik jurnalisme investigatif di Indonesia.

Bre-X berfokus pada dugaan skandal cadangan emas di Busang, Kalimantan Timur. Berita soal Busang menghiasi koran-koran kita pada akhir 1996 sampai awal 1997. Selesai dicetak awal Juli 1997, buku yang dikerjakan hanya dalam dua bulan itu baru bisa diedarkan seusai Orde Baru makzul. Seorang pejabat memanggil Bondan dan menitahkan agar barang itu tak keluar gudang.

Buku ini tak beredar lagi di pasar. Tak juga di bursa buku seken seperti di TIM atau Kwitang. Aku memesan langsung ke penulisnya.

Kini, publik lebih mengenal Bondan sebagai pakar kuliner. Kolomnya, Jalansutra, terbit reguler di Suara Pembaruan dan Kompas Cyber Media. Beranjak dari itu, terbentuklah milis Jalansutra yang telah beranggotakan lebih dari lima ribu orang. Pria kelahiran Surabaya ini juga memandu acara kuliner di sebuah stasiun televisi.

Agaknya sedikit yang masih ingat bahwa pria yang sekolahnya berantakan ini juga cerpenis dan kolumnis manajemen. Di rumah Cinere, kita menyimpan dua jilid antologi tulisan Bondan tentang manajemen di Tempo di bawah nama Kiat pada era 1980-an. Fiuuuhh, di sana kita tak perlu cemas bakal "tersesat" di belantara teori dan angka, dengan jidat berkerut.

Kita juga mengoleksi Pada Sebuah Beranda, kumpulan cerpennya yang mengingatkanku pada Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan: gaya bercerita dan latar kisah yang kebanyakan di mancanegara. Perihal cerpen-cerpen Bondan, Goenawan Mohamad pernah menulis, "Bagi saya, banyak yang dihasilkan Bondan lebih enak saya ikuti ketimbang novel-novel penuh filsafat atau cerita-cerita penuh problem sosial - yang isinya cukup berharga dan bermanfaat - tapi tak kunjung bisa memikat sejak awal."

Hmm, kegembiraan memang bisa menyala kapan saja. Boleh jadi, titik apinya adalah bacaan-bacaan yang mengasyikkan...